Disebalik isra' mi'raj

...Sebuah perenungan yang mendalam dari dasar qolbu yang bercahaya...

cisaat | June 28, 2005

" Muhammad telah naik ke langit tertinggi lalu kembali lagi. Demi Allah aku bersumpah, bahwa kalau aku telah mencapai tempat itu, aku tidak akan kembali lagi."

Bila kita membaca sejarah Islam, setidaknya ada tiga peristiwa penting yang melatarbelakangi peristiwa Isra dan Mi'raj Nabi Saw..

Pertama, peristiwa boikot yang dilakukan orang kaum Quraisy kepada seluruh keluarga Bani Hasyim. Kaum Quraisy tahu bahwa sumber kekuatan Nabi Saw adalah keluarganya. Oleh karena itu untuk menghentikan dakwah Nabi Saw. sekaligus menyakitinya, mereka sepakat untuk tidak mengadakan perkawinan, transaksi jual beli dan berbicara dengan keluarga bani Hasyim. Mereka juga bersepakat untuk tidak menjenguk yang sakit dan mengantar yang meninggal dunia dari keluarga Bani Hasyim. Boikot ini berlangsung kurang lebih selama tiga tahun. Tentunya boikot selama itu telah mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan khususnya kepada Nabi Saw. dan umumnya kepada keluarga Bani Hasyim.

Kedua, peristiwa wafatnya paman beliau, Abu Thalib. Peristiwa ini menjadi sangat penting dalam perjalanan dakwah N! abi Saw. sebab Abu Thalib adalah salah satu paman beliau yang senantiasa mendukung dakwahnya dan melindungi dirinya dari kejahilan kaum Quraisy. Dukungan dan perlindungan Abu Thalib itu tergambar dari janjinya," Demi Allah mereka tidak akan bisa mengusikmu, kecuali kalau aku telah dikuburkan ke dalam tanah." Janji Abu Thalib ini benar. Ketika ia masih hidup tidak banyak orang yang berani mengusik Nabi Muhammad Saw, namun setelah ia wafat kaum Quraisy menjadi leluasa untuk menyakitinya sebagaimana digambarkan dalam awal tulisan ini.

Ketiga, peristiwa wafatnya istri beliau, Siti Khadijah r.a. Peristiwa ini terjadi tiga hari setelah pamannya wafat. Siti Khadijah bagi Nabi Saw. bukan hanya seorang istri yang paling dicintai dan mencintai, tapi juga sebagai sahabat yang senantiasa mendukung perjuangannya baik material maupun spiritual, yang senantiasa bersama baik dalam keadaan suka maupun duka. Oleh karena itu, wafatnya Siti Khadijah menjadi pukulan besar bagi perjuangan N! abi Saw..

Tiga peristiwa yang terjadi secara berurutan itu sangat berpengaruh pada perasaan Rasulullah Saw. ia sedikit sedih dan gundah gulana. Ia merasakan beban dakwah yang ditanggungnya semakin berat. Oleh karena itu para sejarawan menamai tahun ini dengan ámul hujn (tahun kesedihan).

Dalam kondisi seperti itulah kemudian Allah Swt. mengundang Nabi Saw. melalui peristiwa isra dan mi'raj. Isra' adalah peristiwa diperjalankannya Nabi Saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sedangkan mi'raj merupakan peristiwa dinaikannya Nabi Saw. dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha. Peristiwa Isra Miraj ini mengajarkan banyak hal kepada Nabi Saw. Dalam perjalanan isra' ia melihat negeri yang diberkahi Allah Swt. dikarenakan di dalamnya pernah diutus para Rasul. Sedangkan dalam perjalanan mi'raj ia melihat tanda-tanda kebesaran Allah Swt. "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari, dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya, ! supaya kami perlihatkan ayat-ayat Kami kepadanya. Sesungguhnya Ia Maha mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S Al Isra :1). "Sesungguhnya ia (Muhammad) melihat Jibril (dalam rupanya yang asli) di waktu yang lain. Yaitu di Sidratul Muntaha. Didekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." (Q.S An-Najm : 13-18).

Isra' dan mi'raj merupakan pengalaman keagamaan yang paling istimewa bagi Nabi Muhammad Saw.. Puncaknya terjadi di Sidratul Muntaha. Muhammad Asad menafsirkan Sidratul Muntaha dengan lote-tree farthest limit (pohon lotus yang batasnya paling jauh). Pohon Lotus dalam tradisi Mesir kuno merupakan simbol kebijaksanaan (wisdom) dan kebahagiaan. Dengan demikian secara simbolik Sidratul Muntaha dapat diartikan se! bagai puncak kebahagiaan dan kebijaksanaan.

Kebahagiaan yang dibarengi dengan kebijaksanaan inilah yang kemudian membedakan pengalaman keagamaan Muhammad Saw. sebagai nabi dan rasul dengan kaum sufi sebagai manusia biasa. Dengan bahasa yang sederhana tetapi penuh makna Abdul Quddus, seorang sufi Islam besar dari Ganggah, menyatakan,"Muhammad telah naik ke langit yang tinggi lalu kembali lagi. Demi Allah aku bersumpah, bahwa kalau aku telah mencapai tempat itu, aku tidak akan kembali lagi."

Ketika Nabi Saw. sampai di Sidratul Muntaha, Allah Swt memperlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya berupa bukti-bukti wujud, keesaan, dan kekuasaan-Nya. Disamping itu diperlihatkan juga surga, neraka, perihal langit, kursi dan 'arasy. Setelah melihat semua itu keyakinan Nabi Saw. terhadap keagungan Allah Swt dan kelemahan alam dihadapan keagungan-Nya semakin kuat. Pada gilirannya keyakinan seperti ini telah melahirkan kesadaran ruhani baru pada dirinya berupa kebijaks! anaan (wisdom), ketentraman dan kebahagiaan.

Pada saat itu Nabi Saw. sudah mampu membedakan posisi Tuhan dan alam (manusia). Tuhan adalah sumber kebahagiaan, sementara alam sumber kesusahan dan kesengsaraan. Oleh karena itu menggantungkan semua harapan dan keinginan kepada-Nya akan mendatangkan kebahagiaan yang hakiki. Sebaliknya menggangtungkan semua harapan dan keinginan kepada alam akan mendatangkan kesengsaraan.

Kebahagian bertemu dan berdialog dengan Dzat yang dicintai dan mencintainya di Sidratul Muntaha tidak menyebabkan Nabi Saw. lupa akan tugas pokonya menebarkan rahmat Allah Swt. melalui dakwahnya. Hal tersebut dikarenakan, kebahagiaannya tersebut telah dibarengi dengan kebijaksanaan sehingga ia mampu membedakan persoalan pokok dengan cabang, prinsip dengan taktik, esensi dengan aksidensi serta alat dengan tujuan. Nabi Saw. sangat sadar bahwa kebahagian yang diperolehnya dalam Isra' dan Mi'raj bukan esensi dan tujuan utama Allah Swt. tetapi itu semua han! ya alat untuk mempersiapkan kondisi jiwanya supaya bisa melaksanakan tugas yang lebih berat dari sebelum-sebelumnya. Oleh karena itu, ia meninggalkan kebahagiaan langit yang sedang dinikmatinya itu, kemudian turun ke bumi untuk berjibaku dengan realitas sosial yang penuh dengan tantangan dan penderitaan. Dengan demikian peristiwa isra' mi'raj Nabi Saw. tidak hanya memiliki makna individual tetapi juga memiliki makna sosial.

Disinilah letak perbedaan pengalaman keagamaan rasul dengan seorang sufi, terutama sufi falsafi. Pengalaman keagamaan rasul berdimensi individual dan sosial sedangkan pengalaman keagamaan sufi (mistik) lebih banyak berdimensi individual. Ketika seorang sufi mengalami fana, kondisi kejiwaannya hampir sama dengan kondisi kejiwaan Nabi Saw. ketika diisra' dan dimi'rajkan. Ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dirinya merasa menyatu dengan Allah Swt.. Ia hanyut dan mabuk dalam pelukan keindahan-Nya.

Pengalaman keagamaan seperti itu telah menyebab! kan seorang sufi lupa akan diri dan lingkungannya. Kesadarannya bahwa ia bagian dari alam menjadi hilang. Ia menjadi tidak peduli lagi terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Ia hanya asyik ma'syuk dengan perasaannya sendiri dan terus menyendiri dengan dzikir-dzikirnya. Akibatnya, walaupun ia berdzikir ribuan kali dan mendatangkan ketenangan jiwa, namun semua itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap perilaku sosialnya. Semakin lama ia berdzikir semakin dalam masuk pada kesadaran dunia mistik. Semakin masuk ke dalam kesadaran dunia mistik, semakin jauh dari realitas kehidupan. Penomena seperti ini dapat menjelaskan perilaku sebagian sufi yang senang mengasingkan diri dari dunia nyata.

Bagaimana dengan Kita ?
Ketika Muhammad Saw. mendapat tantangan berat dalam dakwahnya, ia diundang Allah Swt. melalui peristiwa Isra' dan Mi'raj. Melalui peristiwa ini Allah Swt. mengobati luka hatinya, menghilangkan kesedihannya dan menghibur duka laranya. Akibatnya jiwanya menjadi fresh (segar) dan bahagia kembali. Dalam kondisi jiwa seperti ini kemudian ia kembali ke bumi malanjutkan tugas dakwahnya yaitu menebarkan rahmat Allah Swt. di muka bumi ini. Disinilah, seperti disebutkan di atas, Isra' Mi'raj tidak hanya memiliki makna individual tetapi juga memiliki makna sosial.

Ada pertanyaan, bagaimana bila yang mendapatkan hambatan dakwah itu kita? Bagaimana bila yang mendapat kesusahan dan penderitaan itu kita? Apakah bagi kita masih ada peluang diisra'kan dan dimi'rajkan seperti nabi Muhammad Saw? Jawabannya, tentu tidak mungkin. Lantas apa yang mesti dilakukan bila semua itu terjadi pada kita?
Shalat! Inila! h jawaban yang diberikan oleh Nabi Saw.

Isra dan mi'raj adalah salah satu mu'jizat Nabi Muhammad Saw.. Artinya itu hanya diberikan kepadanya tidak mungkin diberikan kepada manusia biasa. Namun demikian, berdasarkan petunjuknya ada amalan bagi orang-orang yang beriman yang memiliki fungsi sama dengan Mi'raj yaitu ibadah shalat. "Shalat itu mi'rajnya orang yang beriman (ash-shalatu mi'rajul mu'minín)" sabdanya.

Shalat secara bahasa berarti do'a. Doa pada hakikatnya merupakan bentuk dialog antara manusia dengan Allah Swt.. Ketika seseorang shalat, hakekatnya ia sedang bertemu dan berdialog dengan Allah Swt.. Oleh karena itu secara hakiki fungsi shalat dan mi'raj sama yaitu bertemu dan berdialog dengan Allah Swt..

Shalat yang benar mesti menghasilkan buah yang sama dengan buah Isra' mi'raj yaitu kesadaran individual dan sosial.

Tujuan utama shalat menurut Al Quran adalah untuk berdzikir (mengingat) kepada Allah Swt (Q.S Thaha : 14). Dzikir atau shalat. bila ! dilakukan dengan khusyu' akan mendatangkan ketentraman jiwa dan kebahagiaan hidup (Q.S Ar-Ra'du :28; Al Mu'minun : 1-2). Namun demikian, keberhasilan shalat seseorang tidak hanya diukur dari ketenangan dan ketentraman jiwa saja, tetapi mesti dilihat pula pada atsar (bekas) perilaku sosialnya. Menurut Al Quran, shalat yang benar mesti dapat menumbuhkan berbagai macam kebajikan seperti tumbuhnya kesadaran berinfak dan berzakat, kemampuan menghidarkan diri dari perilaku yang sia-sia, kemampuan memelihara diri dari perbuatan zina dan kemampuan memelihara amanat baik dari Allah Swt. ataupun sesama manusia ( Al Mu'minun : 3-8).

Disamping itu, shalat yang benar mesti dapat mengobati sifat kikir dan keluh kesah serta mencegah perbuatan keji dan munkar (Q.S Al Ma'arij : 19-25 ; Al Ankabut: 45). Rasulallah Saw. menyatakan bahwa shalat yang tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar tidak akan menambah apa-apa bagi mushalli (orang yang shalat) kecuali hanya semakin menjauhkan diriny! a dari Allah Swt (H.R.Ahmad).

Shalat yang memiliki dimensi individual dan sosial adalah shalat yang dilakukan dengan khusyu' dan dáim (kontinu). Menurut Imam Al Ghazali, shalat khusyu' adalah shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Yaitu memahami apa yang diucapkan dalam shalat sehingga melahirkan perasaan ta'zhim (hormat), khauf (takut), harap (raja) dan haya (malu) terhadap Allah Swt.. Kesadaran ini disamping akan mendatangkan kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman jiwa, juga akan mampu memotivasi mushalli untuk merealisasikan seluruh janji yang diucapkannya di dalam shalat ke dalam kehidupan sehari-hari. Wallah a'lam bi ash-shawwab

Rehlah di Sekayu





Dilema Facebook

Sebuah karangan Ust Zaharudin Abdul Rahman.

PROMOSI MAKSIAT & BUKA AIB SENDIRI

Iman seseorang telah disepakati oleh para ulama boleh menaik dan menurun berdasarkan pelakuan di dalam kehidupan sehariannya. Jika dosa memenuhkan ruang kehidupannya dengan dosa, keimanan akan menurun, memberi kesan kepada seluruh amalan. Solat menjadi tidak khusyu’ dan berat, demikian amalan kebaikan dirasa membosankan dan teramat menjemukan. Perasaan kesal dan rasa bersalah atas pelakuan dosa pula akan semakin pudar, hasilnya, keimanan di dalam hati menjadi semakin malap tanpa sinar.

Dosa dan pahala boleh bercambah dengan mudah, tanpa kawalan dan kesedaran sebaiknya, catatan amalan seseorang mungkin mengejutkannya di hari pembalasan kelak, sama ada disebabkan dosa yang di luar jangkaan atau timbunan pahala yang tidak disangka. Jika ia pahala, Alhamdulillah, namun bagaimana jika dosa yang memenuhi buku catatan amalan?

Melalui artikel ini, sekadar ingin mengingatkan kita semua agar lebih peka terhadap salah satu punca percambahan dosa. Malah dosa yang kecil boleh berubah wajah kepada Kabair (dosa besar) akibatnya. Tujuan tulisan ini tidak lain agar kita semua dapat lebih berhati-hati terhadap dosa yang tidak disedari sedang dipromosi dan disebarkan.

Perlu kita semua fahami, manusia selain Rasulullah s.a.w tidak akan dapat lari dari dosa. Paling kurang dosa-dosa kecil. Sebagai contoh, dosa-dosa kecil amat mudah diperolehi apabila kita menonton televisyen sama ada melalui tontonan aurat lelaki wanita di dalam siri drama, filem iklan, hatta berita. Dosa kecil juga boleh berlaku apabila kerananya sekiranya seseorang itu melalaikan tanggungjawab agama yang lain dan pelbagai lagi kekurangan kerananya.

Telah dibincang panjang lebar oleh ulama Islam, TV dan filem adalah neutral, jika digunakan untuk tujuan kebaikan, maka pahala diperolehi, jika keburukan, dosa tentunya.

Sudah menjadi normal hari ini, hampir semua keluarga mempunyai TV walau setinggi manapun tahap keilmuan agamanya. Jika tiada TV, internet juga turut memasuki kebanyakan rumah umat Islam hari ini, segala jenis filem dapat ditontoni melaluinya.

Diketika saya bersetuju dan tertarik dengan seruan para ilmuan dan pendakwah agar kita memboikot Yahudi Zionis dengan memboikot segala jenis hiburan melalaikan di televisyen atau internet, kerana itu adalah antara agenda penting mereka dalam merosakkan umat Islam. Namun begitu, sebahagian pendakwah ini mungkin terlupa menyedarkan, bahawa filem-filem dan drama yang biasanya ‘box office’ karya Hollywood juga adalah karya hedonimse Barat dan Yahudi Zionis. Itu juga sepatutnya diboikot.

Namun, desakan nafsu dan Syaitan kerap mendorong sebahagian kita untuk terus melihat kisah-kisah paparan kreativiti karyawan Barat ini. Walau kita tahu ia bercampurbaur adegan dosa ( berpelukan, bercium dan sebagainya) dan pemaparan aurat tentulah amat pasti.

Benar, secara umumnya, ia mungkin masih dianggap dosa-dosa kecil. Dosa kecil disebut oleh Nabi s.a.w boleh terhapus dengan solat fardhu, solat Jumaat, zikir, istighfar dan pelbagai amalan lain. Namun demikian, dosa kecil seperti itu boleh berganda sehingga adakalanya amalan seseorang tidak lagi mampu memadamkan dosa keseluruhannya.

Ia adalah apabila tontonan kita itu dikongsikan kepada orang lain melalui pendedahan kita sendiri sama ada di ketika bercerita berkenaannya, mungkin dalam ulasan kita. Atau lebih teruk lagi dipamerkan di FACEBOOK sebagai filem (movies) yang diminati, drama TV disukai, buku didambai, muzik dikagumi dan sebagainya.

Bagi saya, tindakan mengisi ruang itu dengan sebarang filem yang majoritinya mendedahkan aurat dan bercampur baur pengajarannya adalah sama seperti mempromosikannya, memberikan iklan percuma kepadanya, memaklumkan keredhaan kita terhadapnya.

Mungkin terkecuali jika kita menyiarkan minat kita terhadap movie pengajaran seperti Kung Fu Panda, Toy Stories, Cars, Omar Mukhtar atau dokumentari dan keagamaan seperti National Geographic, Discovery Channel, Berita, Al-Kuliyyah, Tanyalah Ustaz, Halaqah, Akademi al-Quran dan sebagainya.

Memaparkan minat kita rancangan TV atau Movie yang jelas bercampur aduk dosa dalam majoriti adegannya seperti ‘Desparate Housewives’, ‘Friends’, ‘Pretty Women’, ‘Notting Hill’, ‘Kuch Kuch Hota Hai’, ‘HEROES’ dan jutaan lagi filem sepertinya.

Walaupun seseorang itu memang meminati dan menontonnya, namun sedarilah tontonan itu mengakibatkan banyak dosa-dosa kecil. Tontontan itu tanda akibat kelemahan diri kita sehingga terjebak dalam dosa sebegitu.

Memaklumkannya kepada orang lain akan minat kita terhadap filem itu adalah dosa gandaan yang lain. Ia adalah sebuah promosi iklan secara percuma. Malah mendedahkan sokongan kita terhadap movie dan drama bermaksiat. Bukan sekadar movies sahaja malah hal yang sama terpakai buat promosi buku, novel, muzik dan public figure atau artis (khususnya di facebook).

Saya bimbang, keghairahan berkongsi segala-galanya di dalam facebook, blog dan forum akan tanpa sedar mempergandakan dosa seseorang.

Kecuali jika diyakini dengan ilmu dan iman bahawa pengajaran BAIK dari filem yang ingin dikongsi tersebut atau ditanda sebagai ‘like’ itu MELEBIHI UNSUR DOSA DAN BURUK. Sebagaimana drama-drama bermesej islam, penuh pengajaran tetapi masih dilakonkan oleh pelakon mendedah aurat. Jika diyakini unsur positifnya melebihi dan negatif, tatkala itu mungkin wujudnya sedikit justifikasi untuk dipapar dan ditonjolkan dalam senarai drama diminati. Dengan niat agar orang lain turut mendapat pengajarannya.

Selain berkongsi minat terhadap hal yang disebut di atas, ada juga yang mendedahkan dosanya melalui gambar. Gambar seperti :

* ketika sedang minum arak.
* hadiri parti
* penuh maksiat.
* hadiri majlis dosa.
* sedang berpelukan lelaki wanita.
* atau bersentuhan wanita dan lelaki yang bukan mahram (walaupun bagi seorang doktor kerana keperluan, tetapi gambar sedemikian PATUT disembunyikan).
* dan sebagainya.

Sekiranya semua yang disebut tadi dikongsi di facebook dan blog, kita bimbang individu terbabit tergolong di dalam kategori penyebar dosa dan pembuka aib diri sendiri.

Justeru itu, jadikanlah dosa peribadi disebabkan menonton filem bercampur maksiat, atau menyukai musik hedonisme, atau melakukan maksiat secara fizikal kerana zina, curi, tidak solat dan sebagainya, sama ada kecil atau besar yang dilakukan di rumah, tersembunyi adalah antara individu terbabit dengan Allah SWT. Tujuannya agar seseorang itu beroleh rahmat Allah dan diberi hidayah untuk bertaubat sebelum maut menjelma.

Mungkin disebabkan pendedahannya, apabila ia ingin atau telah bertaubat, sukar untuknya untuk memaklumkan kepada semua yang pernah mendengar atau mengetahui pendedahannya agar bertaubat sama, malah taubatnya juga mungkin diragui orang lain atau paling kurang, membawa masalah dalam hati seperti boleh menumbulkan riya’.

Justeru jalan terbaik atas apa jua bentuk dosa yang telah atau pernah dilakukan adalah SENYAP DAN SEMBUNYIKAN. Ia bukan hipokrit, tetapi ia dituntut oleh Allah dan RasulNya dan usahakan bertaubat. Hiprokrit adalah bagi mereka yang berpura-pura baik, tetapi dalam hal ini, si pelaku dosa hanyalah menyembunyikan dosanya. Tidak timbul persoalan dia cuba mengabui mata orang ramai dan berpura-pura baik.

KESIMPULAN

Segeralah memadam paparan minat dan keterlibatan terhadap apa jua aktiviti, tayangan, muzik, bacaan selain untuk Allah, Rasul dan apa yang mendekatkan diri kepada keredhaan Allah. Walau sebanyak, sedalam manapun minat, sejauh manapun keterlibatan, sembunyikan ia, bukan bertujuan untuk menipu manusia lain, tetapi agar dia tidak tergolong dalam kalangan berbangga dengan dosanya, mempromosi, membuka aib sendiri dan mengiklan kejahatan kepada orang lain.

Semaklah Facebook anda, blog, website, forum dan sembangan harian agar tidak tersalah dan mempergandakan dosa.

Credit to : Feryco

Pendekatan Dakwah

Posted on Tuesday, June 22 @ 16:00:00 PDT


Tazkirah Oleh: wayarMAHAL

"konsert lifeline di malaysia"Secara solid mengakui keadaan masyarakat di Malaysia khususnya seluruh dunia amnya didapati keruntuhan akhlak dan moral yang kian meningkat bak cendawan tumbuh selepas hujan amatlah begitu membimbangkan.Ini disebabkan pelbagai hidangan gejala salah laku ini dimanipulasikan oleh golongan para remaja.

Amat sedih dan dukacita diantara mereka dari golongan cerdik pandai ,mempunyai peribadi serta latar belakang yang berpendidikan dan amat lagi menduka citakan apabila golongan yang terjebak ke kancah keruntuhan akhlak ini dari golongan remaja yang mempunyai pendidikan agama,tahu halal haram.Nauzubillah....

Pendekatan dai'e terhadap mad'u
Setiap dai'e ada kelebihannya tersendiri dan juga memiliki uslub serta module-module yang pelbagai dalam skop bagaimana hendak menarik mad'u ,baik dari segi olahan penyampaian atau tindak tanduk dai'e itu sendiri secara tidak formal.Perlu dilihat dari kondusi yang sesuai.Adakalanya mad'u mudah masuk melalui olahan lisan yang berhemah dan adakalanya juga melalui penampilan dan personaliti dai'e itu sendiri,dengan secara tidak lansung dapat menarik mad'u.

Bila kita lihat dan muhasabah diri kita,adakah kita tergolong diantara suka dan sentiasa dalam halaqah golongan yang faham tapi tidak pernah mengambil cakna serta ihtimam pada golongan yang kurang faham ini terus terleka dibuai keduniaan didepan mata kita.Selaku para dai'e,perlu ada pembawakan kreatif dan bijak menarik golongan yang kurang faham tentang Islam.Ada diantaraya mereka di label sebagai golongan Islam surface sahaja.Maka rentetan daripada permasalahan tersebut,kita harus mengenali mad'u supaya ianya boleh menjadi salah satu elemen permudahcara untuk melaksanakan kerja-kerja dakwah.Begitu juga bagaimana cara untuk hendak menyesuaikan diri dengan mad'u.Rasulullah s.a.w juga berdakwah secara berhikmah dan bijaksana.Dan juga seperti kisah yang dilalui oleh cucu Baginda s.a.w ,yang mana ketika itu beliau melihat seorang lelaki sedang mengambil wuduk secara ala kadar seperti acuh tak acuh sahaja.Lalu beliau mendekati lelaki itu dan berkata padanya.'' pakcik boleh lihat saya berwuduk tak?kalau salah ,tolong tegur ya'' (ni ayat admin supaya jelas untuk di sampaikan pada duuful kiram).

Kadang-kadang berlaku kejadian yang menyebabkan mad'u lari dari dai'e nya,mungkin ia lari secara fizikal dengan tidak lansung menghadiri sebarang pengajian atau program-program dakwah yang dianjurkan dan mungkin juga tiada lagi rasa cinta dan sayangkan pada dai'e tersebut.
Sabda Rasulullah s.a.w''Bertakwalah kepada Allah dimana jua kamu berada dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik .Ikutilah kejahatan dengan kebaikan agar kebaikan dapat menghapuskan kejahatan-Riwayat Ahmad-


Dalam Kitab Dakwah Fardiah karangan Mustapha Masyhur menagatakan ada 7 marhalah cara mendekati mad'unya .

Secara ringkas yang dapat di adaptasi dalam entri ini ialah...

Marhalah pertama:
Marhalah pertama ialah mewujudkan hubungan dan perkenalan dengan mad’u (taaruf). Di marhalah ini, anda hendaklah benar-benar merasakan kepada dirinya bahawa anda mengambil berat tentang dirinya dan bertanya khabar apabila dia tidak ada dan lain-lain. Ketika itu anda tidak membincangkan apa-apa tajuk mengenai dakwah sehingga hatinya benar- benar terbuka dan bersedia untuk memahami apa yang anda perkatakan mengenai dakwah dan mengambil pengajaran daripadanya.


Marhalah kedua:
Marhalah kedua ialah marhalah membangunkan iman yang lesu di jiwa mad’u. Di peringkat ini perbincangan mengenai persoalan keimanan tidak perlu dilakukan secara langsung. Adalah lebih baik jika perbincangn mengenainya mengambil pendekatan secara tidak langsung seolah-olah tanpa disengajakan, dengan cara mengambil kesempatan daripada melihat burung, tumbuhan, serangga atau mana-mana makhluk Allah. Di kesempatan tersebut, perbincangan mengenai kekuasaan kekuasaan Allah, kehalusan dan keagungan ciptaan-Nya dilakukan. Sebagai contohnya, dijelaskan kepada mad’u bagaimana tumbuhan tersebut tumbuh daripada tanah dan air yang sama. Ia melahirkan bahagian-bahagian yang berlainan seperti dahan, daun, bunga, buah, warna, bau dan rasa sedangkan ia disiram dengan air yang sama dan ditanam di tanah yang sama.


Marhalah ketiga:
Di waktu itu, bermulalah marhalah ketiga di dalam dakwah. Di marhalah ini kita membantunya memperbaiki dirinya dengan cara mengajarnya perkara-perkara ketaatan kepada Allah dan ibadat-ibadat fardhu, membiasakan dirinya melakukannya secara berdisplin, menjauhi
maksiat dan berakhlak dengan akhlak Islam

Marhalah keempat:
Marhalah keempat ialah menjelaskan pengertian ibadah yang syumul tanpa membataskannya kepada solat, puasa, zakat dan haji sahaja. Tetapi ia merangkumi seluruh aspek kehidupan seperti makan, minum, pakaian, ilmu, amal, perkahwinan, riadhah, memelihara anak-anak dan lain-lain. Itu semua adalah ibadah kepada Allah s.w.t apabila mencukupi dua syarat: Niat kerana Allah s.w.t dan cara melaksanakannya sesuai dengan syariat Islam.

Marhalah kelima:
Di marhalah ini, kita menjelaskan kepada mad'u bahawa agama kita (Islam) tidak berpada dengan kita menjadi muslim pada diri sendiri sahaja, dengan hanya melaksanakan ibadat-ibadat tertentu, berakhlak dengan akhlak yang baik dan tidak menyakiti orang lain, tidak lebih daripada itu.
Malah Islam adalah agama bermasyarakat. Islam adalah sistem hidup, pemerintahan, perundangan, daulah, jihad dan ummah. Inilah fahaman yang betul terhadap Islam.


Marhalah keenam:
Di ketika itu, datanglah marhalah keenam iaitu mejelaskan kepada mad'u bahawa kewajipan ini tidak mungkin dapat disempurnakan secara bersendirian (fardi), setiap muslim tidak mampu menegakkan Daulah Islamiah dan mengembalikan khalifah Islamiah secara bersendirian. Malah usaha tersebut mesti dilakukan melalui Jemaah (organisasi), Jemaah yang akan menyatukan usaha-usaha fardi demi melaksanakan tanggungjawab yang besar ini


Marhalah ke tujuh:
Selepas itu, datanglah marhalah ketujuh iaitu menjawab soalan yang bermain di minda mad'u, Jemaah manakah yang patut dianggotai? Marhalah ini adalah penting tetapi sensitif. Ia memerlukan hikmah dan kebijaksanaan, penerangan yang jitu dan memuaskan. Ini kerana, di medan terdapat pelbagai jemaah yang bergerak dan semuanya mengajak para pemuda menganggotainya. Semuanya membawa bendera Islam, mempunyai lambang-lambang dan cara-cara tersendiri untuk menarik para pemuda. Perkara yang mesti difahami oleh setiap pemuda muslim ialah
persoalan amal Islami adalah persoalan asasi dan penentu masa depan.

Secara kesimpulan yang dapat diambil ialah:
Mendekati secara peribadi, Membentuk ia dari pendekatan hati ke hati, perbincangan berperingkat yang sangat teliti dari minat-minat mereka, kemudian memecahkan tabir hati untuk melihat ciptaan-ciptaan ilahi, akidah, ibadah, akhlak dan seterusnya.
Pendekatan sekian rupa ini agak lambat tapi perlu kita tahu bahawa penghasilannya adalah suatu kepastian.Ianya merupakan tulang belakang kepada dakwah kita,sungguh indah pendekatan tersebut dengan aturan yang lengkap tanpa ditinggalkan walau sekecil zarah .

Kalau kita memikirkan hal dakwah,maka dunia akan luas buat kita dan kita tidak akan terasa sempit.Bukan hidup didunia ini jika tiada masalah hatta Rasulullah s.a.w yang dijanjikan syurga juga mempunyai masalah.Dan disini saya tekankan lagi bahawa uslub dan cara penyampaian dai'e terhadap mad'u itu penting.Dan saya juga yakin bahawa selaku para dai'e bukanlah mudah dalam mengendalikan kerja-kerja dakwah.Tetapi ketahuilah mencegah kemungkaran itu dan mengajak kepada kebaikan adalah merupakan salah satu cabang jihad fi sabilillah.
Jadi , apa yang ditunggu lagi wahai para dai'e sekalian.Aslih nafsak wad'u ghoirak(baikilah dirimu ,serulah selainmu).Islam datang berdagang,perginya juga berdagang.Kalau kita tidak mulakan,maka siapa lagi kita harapkan???Moga kita istiqomah dalam pentarbiahan diri dan mentarbiah yang lain sepertimana dalil yang menyebut tentang istiqomah , Allah swt berfirman yang bermaksud :''Maka tatkala kamu pada yang benar'' [[ surah Hud:112]]

Wallahualam...

NASA Sahkan Kemungkinan Matahari Akan Terbit Dari Barat

Oleh Syed Imran
Sains astronomi ada menyebut bahawa kelajuan putaran planet Marikh sedang perlahan sedikit demi sedikit ke arah laluannya ke timur. Para saintis agensi angkasa lepas kebangsaan Amerika Syarikat (NASA) pula mendapati pergerakan planet itu terhenti ke arah laluan tersebut.

NASA kemudian mendapati planet Marikh telah menukar laluannya ke arah yang bertentangan, iaitu ke arah Barat, ini bermakna matahari akan terbit dari arah barat Marikh. Fenomena yang ganjil itu disebut sebagai "retrograde motion".

Kebanyakan saintis Barat berpendapat bahawa semua planet akan melalui fenomena yang serupa dan ini termasuklah planet Bumi. Apabila ianya berlaku, maka matahari akan terbit dari Barat!

Subhanallah! Kekasih Allah Nabi Muhammad s.a.w. bersabda bahawa salah satu tanda besar yang hari kiamat akan tiba ialah apabila matahari terbit dari Barat.
Pihak NASA telahpun mendapati tanda-tanda matahari akan terbit dari Barat semasa ahli sains astronominya mengkaji pergerakan planet Marikh. Yang mereka tidak dapat pastikan ialah tempoh masa yang bakal diambil sehinggalah semua planet melalui fenomena yang serupa.

Dapatan sains oleh NASA itu semestinya memperkukuhkan lagi iman umat Islam akan tanda-tanda kiamat. Manusia tidak tahu bila ianya akan berlaku walaupun sudah ada banyak tanda-tandanya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Selamat Datang Bulan Rejab


Bulan Rejab adalah termasuk di dalam salah satu bulan-bulan Islam yang dianggap suci oleh umat Islam. Firman Allah s.w.t.

Maksudnya ;
Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa ia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. ketetapan yang demikian itu ialah agama yang betul lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya); dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.

Empat bulan yang dihormati sebagaimana disebutkan di dalam ayat tersebut ialah Zulkaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rejab. Inilah yang telah disepakati oleh para mufassirin. Penghormatan terhadap bulan Rejab adalah bersempena penghormatan yang telah diberikan kepadanya semenjak zaman jahiliah lagi dimana mereka mengharamkan peperangan di dalam bulan tersebut. Inilah suatu pengiktirafan oleh Allah s.w.t. terhadap bulan Rejab di samping bulan-bulan haram yang lain.



Sejarah Islam telah mencatatkan beberapa peristiwa penting telah berlaku di dalam bulan Rejab, di antaranya ialah ;

Pertama : Peristiwa isra’ Mikraj yang berlaku pada 27 Rejab mengikut pendapat sebahagian besar ulama’ Islam. Ia adalah peristiwa di mana Rasulullah s.a.w. telah dijalankan dari Mekah ke Baitul Maqdis dan kemudiannya diangkat ke langit untuk bertemu Allah s.w.t. Di sinilah bermulanya kefardhuan solat lima waktu kepada umat Muhammad s.a.w.

Kedua : Peristiwa hijrah yang pertama ke negeri Habsyah oleh beberapa orang sahabat Rasululullah s.a.w. termasuk termasuk saidina Usman bin Affan r.a. dan isterinya Ruqaiyah binti Rasulullah s.a.w. Penghijrahan ini bertujuan menyelamatkan akidah di samping keselamatan diri ekoran tekanan dan ancaman hebat oleh puak musyrikin Mekah ketika itu.



Ketiga : Peristiwa perang Tabuk yang berlaku pada tahun kesembilan Hijrah. Ia adalah peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah s.a.w. sendiri untuk menentang tentera Rom yang ingin mengembangkan pengaruhnya ke semenanjung Tanah Arab ketika itu. Walaubagaimanapun akhirnya tentera Rom membatalkan hasrat mereka kerana merasa gentar dan takut dengan kehebatan dan kekentalan jiwa tentera Islam.

Selain daripada itu, terdapat juga peristiwa penting lain yang berlaku di dalam bulan yang mulia ini seperti penaklukan semula kota Baitul Maqdis oleh Salahuddin Al-Ayubi dari kekuasaan tentera Salib pada 27 Rejab 583 hijrah. Imam As-Syafie yang menjadi ikutan mazhab umat Islam di tanahair kita juga dilahirkan di dalam bulan Rejab tahun 150 hijrah bersamaan 767 masehi.

Sesetengah umat Islam akan berpuasa sunat di dalam bulan Rejab. Sesetengahnya pula akan pergi menunaikan umrah kerana menganggap umrah yang mereka lakukan di dalam bulan ini ada fadhilatnya yang khusus. Tidak kurang juga terdapat umat Islam yang berusaha memperbanyakkan sedekah pada bulan ini dengan beranggapan mereka akan mendapat ganjaran yang berlipat kali ganda berbanding bulan-bulan yang lain.

Hakikat ganjaran yang disediakan oleh Allah s.w.t. kepada orang yang beramal soleh hanya Dia sahaja yang maha mengetahuinya. Oleh kerana itu, sudah sewajarnyalah di dalam bulan Rejab ini dan juga bulan-bulan yang lain diisi dengan perkara-perkara yang dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah s.w.t. dan mendapat keredhaannya.

Sesungguhnya terdapat banyak hadis-hadis Nabi dan ayat-ayat Al-Quran yang memberikan galakan kepada umat Islam untuk melakukan sesuatu amal ibadat tanpa mengira di dalam bulan mana mereka melaksanakannya. Oleh kerana itu, bersempena datangnya bulan Rejab ini banyak amalan sunat yang boleh dilaksanakan sepertimana juga di dalam bulan-bulan yang lain, di antaranya ;

1. Berpuasa sunat Isnin dan Khamis atau berpuasa sebahagian daripada bulan Rejab. Amalan berpuasa sunat adalah merupakan suatu galakan daripada Allah s.w.t. kepada umat Muhammad s.a.w. sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadis qudsi riwayat Imam Bukhari ;

Sabda Rasulullah s.a.w.

“ Allah s.w.t. telah berfirman bahawa puasa itu adalah untukNya maka Allah lah yang akan membalasnya.”


Imam Muslim pula meriwayatkan daripada Uthman bin Hakim al-Ansari, beliau (Uthman) pernah menanyakan Said bin Jubayr mengenai puasa Rejab. Said menjawab:

“Aku mendengar Ibn Abbas mengatakan: “Rasulullah s.a.w berpuasa Rejab sehingga kami menyangka Baginda tidak berbuka (terus-menerus berpuasa) dan Baginda berbuka sehingga tidak nampak berpuasa.” (Sahih Muslim)




2. Memperbanyakkan sedekah terutamanya kepada golongan fakir miskin. Ini berdasarkan hadis Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hazam ;

“ Tangan yang di atas ( pemberi ) lebih baik dari tangan yang di bawah ( penerima )”

3. Memperbanyakkan zikrullah dengan cara berwirid, bertahmid, bertasbih dan sebagainya. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :

“ Hanya dengan mengingati Allah akan menjadi tenang dan tenteram hati manusia.”

Demikianlah sebahagian amalan-amalan sunat yang amat digalakkan kepada umat Islam untuk melaksanakannya. Amalan-amalan ini, sekiranya diamalkan dengan penuh keikhlasan sudah pasti akan dapat melahirkan insan yang benar-benar bertaqwa kepada Allah s.w.t. Ini, sekaligus dapat mengelakkan mereka daripada terjerumus kedalam perkara-perkara maksiat dan masalah-masalah sosial yang lain.

::

Separuh hatiku hilang

Perancangan awal dan juga keputusan mesyuarat , kami akan mengadakan qiam pada 14 atau 15 haribulan mei ini. Bila dihubungi rakan rakan , ramai yang mempunyai halangan maka diubah program rehlah . Lokasi paling hampir kami pilih dan persediaan untuk pengisian aku atur sebaik mungkin.

Pagi sabtu lepas , aku bersendirian ke pantai. Nasi lemak dan air tea sebagai bekalan. Sampai di sana sudah ada orang bersiap untuk aktivti remaja dan lebih tepat lagi program nisa'. Banyak juga hadiah disediakan. Mereka pakai seragam warna merah jambu. Cantik menawan dan saling bekerja sama.

Keretaku labuhkan jauh dari mereka. 'Wakaf" atau tempat rehat sudah banyak didirikan oleh pihak bandaraya. Aku memilih wakaf yang akhir. Bekalan yang dibawa tadi aku makan, nasi lemak ikan bilis memang aku suka tetapi orang ghanu biasa buat sambal ikan aya. Aku makan juga tetapi tidak seenak sambal ikan bilis. Tambah telur rebus, kerang pedas dan kacang goreng lagi 'best'. Sekarang mana nak dapat nasi lemak se 'special' itu, melainkan buat sendiri atau pergi ke hotel hotel.

Aku merenung ke laut China Selatan. Ombak manja di waktu pagi, lembut dan menyisir pasir putih dan menghilangkan bekas jejak jejak manusia atau sesiput pantai. Sinar matahari belum menggaringkan kulit. Sepoi angin nyaman memberi sedikit kesegaran tubuh dan menenangkan perasaan aku. Jauh jauh kapal olang oleng macam sampan kertas di tengah lautan. Ingatanku kembali ke masa kecil dahulu, mana ada permainan , nak beli jauh sekali. Jadi , segala apa alat untuk bermain buat sendiri. Nak main sampan dan kapalayar, carilah sabut kelapa dan gunalah kemahiran mencipta kapal. Perlukan layar, gunakan sebarang kertas dan lidi. Kemudian besen dan air menjadi lautan., seronok dan puas. Kalau ada saingan kita bersainglah, kapal siapa yang menang dan tak terbalik.

Sesedar , nasi habis sebungkus dan air kuteguk perlahan. Alangkan damainya perasaan ketika itu. Hati bertasbih bersama angin dan ombak yang menghempas pantai. Tidak ingat kekalutan kerja. Tidak ingat kerenah manusia dan tidak ingat sesiapa.

Jauh aku memikirkan lokasi rehlah, kelengkapan yang perlu dan bentuk pengisian program.
Aku hubungi timbalan ketua, panggil saja 'sah'. Berbincang dan membuat keputusan. Segera, kerana harinya terlalu hampir dan aktiviti bersusun susun tiap hari. Suku jam untuk mendapatkan kata sepakat, kira jadi dan perlu hubungi rakan rakan lain untuk tindakan susulan.

Lama juga aku di pantai, mana tau kalau ada wajah wajah yang aku rindu datang 'lepak' dan berlari lari mencari pelangi. Bukan apa, sekurang kurangnya ada sejarah yang terulang.

Aku pulang dengan penuh harapan. Merangka , merancang, nulis dan cetak .Program ke tiga aku semenjak menjadi ketua di sini. Misi dan visi aku tinggi setinggi awan. Akan aku usahakan untuk mencapainya. Bukan 'glamour', tetapi kerja yang membolehkan islam sampai ke hati penghuni desaku dan islam tertegak di seluruh kehidupanku dan rakan taulanku.

Pagi ahad yang dijanjikan , aku siap semua bekalan . Nasi impit kuah kacang itu menu paling mudah bagiku. Niat untuk menjamukan kawan kawan mungkin terlaksana. Air bertapis satu tong, air bersih satu tong, tikar, pinggan , sudu dan tisu dimuatkan dalam kereta. Bekalan makanan masing masing bawa untuk diri sendiri. Ujian pertama , hendak melihat sejauh mana kemurahan hati dan sifat suka bersedekah itu pada ahli ahli yang 'bertugas'.

Ya, apa yang aku bayangkan menjadi kenyataan. Bekalan makanan sahaja bermacam macam dan aku merasa seronok melihat pengorbanan ini. Tiap yang datang berlabuh di pantai membawa lebih makanan, bukan untuk diri sahaja tetapi untuk dikecap oleh banyak tangan.

Sepatutnya program kami bermula pukul 8.30 pagi. Kerana masalah teknikal, kami datang tidak sama masa, lagi pun qaryah kami banyak taman taman dan tidak semua ada kenderaan sendiri. Walaubagaimana pun keyakinan masih ada dan kami menunggu kesemua ahli rehlah tiba sebelum memulakan program.

Dua kupasan ceramah dan tazkirah dibentangkan. Ustazah muda keluaran madrasah makmuria dijemput khas untuk meng'acah' bakat dan kebolehan berkomunikasi dengan masyarakat. Boleh dan berdaya cuma mereka memerlukan masa yang panjang untuk menyesuaikan diri dan membekali diri dengan ilmu dan semangat juang.

Tajuk pertama 'Isra' dan Mi'raj nabi saw" , disampaikan oleh Hasliza. Orang yang tinggi lampai. Baju hijau berkain hijau dan bertudung hijau. Lain dari yang lain. Memulakan ucapan, walaupun berpandukan nota yang diberi, dia menggunakan bahasa 'baku'. Terasa asing bagi yang sudah lama mengenali beliau tetapi itulah sebaiknya kerana pendengar dari berbagai keturunan dan longat bahasa. Ada orang Kelantan, ada orang Pahang , ada dari Johor dan Perak pun ada.

Buat permulaan segala 'yang semulajadi' itulah kita utamakan . Cara bercakap , bahasa, penampilan dan interaksi dengan pendengar. Aku yakin dia boleh menjadi salah seorang tenaga pengajar di taman Makmuria

Seorang lagi yang diuji bakatnya, Sobariah. Melihat pada catat memang banyak tetapi masa dan kesesuaian tafsiran amat menghalang pengucapan . Aku yakin dia juga boleh dan katanya suaminya kerap memanggilnya sebagai 'ustazah' kerana selalu melontarkan pendapat dan hukum Islam bila bersembang suami isteri.

Komentar dari teman sejawat diterima antaranya timbalan dan veteran yang hadir. Tidak terlepas peluang anak kak Ros yang sedang bercuti. Komennya panjang dan itulah tips yang perlu bagi guru guru atau pensyarah pensyarah, Mesti ada 'alat bantu' mengajar, hubungan wajah dan 'mata dengan mata'. Maklum balas dalam komunikasi , memudahkan penerimaan maklumat dan kefahaman isi syarahan. Mengikut 'standard' universiti memang begitu. Dia memaklumkan sahaja dan aku mengambilkira rakan rakan yang nak dilatih ini dari kelu;usan bawahan. Yang mujurnya mereka hendak bersama kita.

Sesi pertama kami hentikan dahulu; Kami mengejar waktu. Pukul 10,30 kami membuka segala bekalan dan makan bersama, Haus tekakku ku hilangkan dengan air sirap ais. Rakan rakan lain sibuk menjamah makanan, Sebenarnya aku tiada selera makan dan hatiku tidak sepenuhnya ada dalam dadaku. Ke mana ye ? Nak tau tak ? Yang awal, akak aku tidak sertai sama dalam rehlah ini. Keberadaan dia akan menambahkan semangat aku dan tumpuan aku akan 99% kepada program. Yang akhir, s/u aku tidak hadir, tidak dapat berkongsi pengalaman dengannya. Aku gagahkan juga diri untuk mengemudikan program.

Jamuan selesai tetapi makanan banyak tersisa. Tidak sedarpun apa yang mereka semua makan , yang aku lihat mereka berhenti makan . Hiruk pikuk dan gelak ketawa merekapun aku tidak rasa seronok. Ya separuh hatiku hilang.

Plastik dan bekas bekas diisi semula tetapi isinya berbeza dari tadi. Bertukar juadah namanya.
Sebelum terlambat, satu program lagi harus dilaksanakan. Aku menyerahkan kepada Sobariah untuk menguruskan hal hal 'tukar pusaka'. Semua dapat kecuali dua sahabat yang datang kemudian dan tidak tahupun syarat bawa hadiah. Tidak apa dan dia tidak berkecil hati.

Akhirnya bacaan solawat as syifa' di bacakan beramai ramai. Aku rasa tidak puas hati juga kerana tidak dibaca banyak lagi . Itu sebagai doa akhir dan kami bersalaman, berpeluk dan bercium. Keinginan hendak buat satu program yang lebih sempurna , lengkap dengan nasyid dan permainan dewasa. Tengoklah nanti, kalau ada umurku panjang akan ku atur serapi mungkin dan secanggih yang boleh.