Perkara perkara yang membatalkan puasa

PERKARA YANG MEMBATAL PUASA


Perkara yang membatalkan puasa:

Memasukkan sesuatu ke dalam rongga (mulut,dubur/qubul)
Muntah dengan sengaja
Keluar mani dengan sengaja
Bersetubuh dengan sengaja
Berbuka sebelum sampai waktu
Murtad
Datang haid atau nifas
Bersalin

Makruh semasa berpuasa

Bersugi/memberus gigi selepas gelincir matahari
Mencium, berpeluk/berdakapan secara berlebihan dengan isteri
Mencium bau-bauan samaada yang wangi atau busuk
Merasa makanan
Mengeluarkan darah seperti berbekam
Berlebihan berkumur-kumur

Orang yang diizinkan berbuka atau tidak berpuasa:

Orang yang sakit
Orang yang dalam perjalanan jarak jauh melebihi 52 batu atau 80.64 km
Orang tua yang sudah lemah
Orang yang hamil dan orang yang menyusukan anak

Sejarah Yahudi

Semua tanah Palestina, khususnya Yerusalem, adalah suci untuk orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim. Alasannya adalah karena sebagian besar nabi-nabi Allah yang diutus untuk memperingatkan manusia menghabiskan sebagian atau seluruh kehidupannya di tanah ini.

Menurut pengkajian sejarah yang didasarkan atas penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, Nabi Ibrahim, putranya dan sejumlah kecil manusia yang mengikutinya pertama kali pindah ke Palestina, yang dikenal kemudian sebagai Kanaan, pada abad kesembilan belas sebelum Masehi. Tafsir Al-Qur'an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) AS, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot). Al-Qur'an menyebutkan perpindahan ini sebagai berikut:

Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia". (Qur'an, 21:69-71)

Daerah ini, yang digambarkan sebagai “tanah yang telah Kami berkati,” diterangkan dalam berbagai keterangan Al-Qur'an yang bermaksud tanah Palestina.

Sebelum Ibrahim AS, bangsa Kanaan (Palestina) tadinya adalah penyembah berhala. Ibrahim AS menyeru mereka supaya meninggalkan kekafirannya dan mengakui satu Tuhan. Menurut sumber-sumber sejarah, beliau mendirikan rumah untuk isterinya Hajar dan putranya Isma’il (Ishmael) di Mekah dan sekitarnya, sementara isterinya yang lain Sarah, dan putra keduanya Ishaq (Isaac) tetap di Kanaan. Ketika Allah memerintahkan baginda mendirikan Kaabah bersama puteranya Isma'il, baginda berdoa bersama sama anaknya itu seperti yang disebut;

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur". (Qur'an, 14:37)

Akan tetapi, putra Nabi Ishaq as yang bernama Ya’kub (Jacob) as berpindah ke Mesir selama putranya Yusuf (Joseph) as diberi tugas kenegaraan. Di Kanaan , ketika itu mengalami kemarau yang panjang dan memaksa penduduknya mencari bantuan makanan dari negara luar. Anak anak Ya'cub merantau ke Mesir dan akhirnya berpindahlah keluarga Ya'cub ke sana. Anak anak Ya’kub juga dikenang sebagai “Bani Israil.”

Yusuf as, yang dikhianati oleh saudaranya dipelihara oleh pembesar Mesir, difitnah oleh ibu angkatnya pula hingga merengkok di dalam penjara. Yusuf as merasa aman dipenjara dan dapat berdakwah manusia kepada iman. Bila keluar dia diangkatkan sebagai kepala bendahara Mesir. Kemudian penemuan Yusuf dan saudara saudaranya, mendorong Bani Israel diberi perlindungan dan menjadi pemastautin serta hidup dengan aman damai di Mesir.

Keadaan mereka berubah setelah berlalunya waktu. Firaun yang menjadi raja Mesir, memperlakukan mereka dengan kekejaman yang dahsyat. Allah menjadikan Musa (Moses) as nabi-Nya selama masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Ia pergi bersemuka dengan Firaun yang juga bapa angkatnya, menyerunya kepada Islam, meninggalkan kekufuran dan menyerahkan diri kepada Allah. Nabi Musa as meminta supaya Firaun membebaskan Bani Israil dari penghambaan dan penindasan. Namun Firaun seorang raja yang kejam lagi bengis. Ia memperbudak Bani Israil, mempekerjakan mereka hingga hampir mati dan kemudian memerintahkan dibunuhnya anak-anak lelaki. Meneruskan kekejamannya, ia memerintahkan penangkapan Musa as dan membunuhnya.

Musa as diperintahkan meninggalkan Mesir dan membawa bersamanya seluruh bani isra'il.


Menyusul wafatnya Nabi Yusuf (Joseph), Bani Israel mengalami kekejaman tak terperikan di tangan Firaun.

Meskipun Firaun menolak permintaannya, Musa as dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur'an, Musa as memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan:

"Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi". (Qur'an, 5:21)

Setelah Musa as, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) as menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman as (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di selatan hingga sungai Eufrat di negara Syria sekarang di utara. Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama pembangunan . Di Yerusalem, Sulaiman as membangunkan sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutuskan ramai nabi nabi kepada Bani Isra'il. Kebanyakan mereka tidak mendengarkan seruan nabi nabi malah membunuh nabi nabi dan mengkhianati Allah.

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu'min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qur'an, 48:26)

Karena kemerosotan akhlaknya, kerajaan Israel mulai meruntuh dan sehingga orang-orang kembali menyembah berhala, dan bangsa ini dikenal sebagai Yahudi pada saat itu, diperbudakkan kembali. Ketika Palestina dikuasai oleh Kerajaaan Romawi, Nabi ‘Isa (Jesus) as datang dan sekali lagi mengajak Bani Israel untuk meninggalkan kesombongannya, ketahyulannya dan pengkhianatannya supaya kembali kepada agama Allah. Sangat sedikit orang Yahudi yang meyakininya; sebagian besar Bani Israel mengingkarinya. Dan, seperti disebutkan Al-Qur'an,

"Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas". (Al-Qur'an, 5:78)


Setelah berlalunya waktu, bangsa Yahudi dikuasai oleh kerajaan Romawi (Rome), yang mengusir mereka semua keluar dari Palestina.

Tujuan penjelasan yang panjang lebar ini adalah untuk menunjukkan bahwa pendapat dasar Zionis bahwa “Palestina adalah tanah Allah yang dijanjikan untuk orang-orang Yahudi” tidaklah benar. Pokok permasalahan ini akan dibahas secara lebih rinci dalam bab tentang Zionisme.

Zionisme meterjemahkan pandangan tentang “orang-orang terpilih” dan “tanah terjanji” dari sudut pandang kebangsaannya. Menurut pernyataan ini, setiap orang yang berasal dari Yahudi itu “terpilih” dan memiliki “tanah terjanji.” Padahal, bangsa tidak ada nilainya dalam pandangan Allah, karena yang penting adalah ketakwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Allah, orang-orang terpilih adalah orang-orang yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang siapa bangsanya.

Al-Qur'an juga menekankan kenyataan ini. Allah menyatakan bahwa warisan Ibrahim bukanlah orang-orang Yahudi yang bangga sebagai “anak-anak Ibrahim,” melainkan orang-orang Islam yang hidup menurut agama ini:

"Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman". (Qur'an, 3:68)

THE MUSLIM OBSERVER, September 2001

W. REPORT, Juli 96
Sementara umat Yahudi yang menentang Zionisme secara terbuka menentang pemerintah Israel, Yahudi fanatik berpandangan: “Tanah Terjanji adalah untuk Orang Terpilih. Selamanya. Kekal. Abadi.” Di sampul luar Washington Report on Middle East Affairs, Yahudi fanatik digambarkan membawa spanduk dengan semboyan ini. Karena pandangan keliru seperti ini, mereka bertindak kejam atas tahanan penduduk Palestina Kristen maupun Islam.


Bangsa Yahudi , sesudah dilaknat oleh Allah , mereka tidak mempunyai tanah tempat tinggal dan selalu dibenci oleh manusia .

Sekian.


Projek rumah bahagia.

Selepas kahwin , pasangan suami isteri 'baru' akan tinggal bersama keluarga atau mertua selama beberapa masa. Untung baik sekejap selepas kahwin mereka duduk di rumah sendiri atau rumah sewa. Itu lebih mendamaikan. Untung sedikit, duduk bersama mertua tanpa perlu bersusah payah mencari rumah lain.

Membina keluarga baru perlukan suasana yang baik dan terkawal. Pepatah ada mengatakan , "Biar rumah tiang seribu jangan berumah tiangnya satu." Bila kita punya keturunan, kita bertanggung jawab atas pendidikan , pakaian , makanminum dan tempat tinggal isteri dan anak anak. Lebih selesa pembentukan dan pendidikan keluarga itu terjadi tanpa gangguan pihak lain.
Tidak berkongsi suasana dan tidak berkongsi singgahsana (penguasaan).

Suami mempunyai kuasa untuk membimbing isteri ke jalan benar (Islam). Rumahtangga 'sakinah, mawaddah wa rahmah' menjadi idaman muslim dan muslimat. Isteri juga mempunyai hak untuk membimbing keluarga ke arah itu. Apa tidaknya, masa suami untuk mendidik isteri terhad dan membentuk peribadi anak anak juga terhad kerana sibuk dengan kerja , kemasyarakatan dan lain lain.

Isterilah yang mempunyai masa yang banyak bersama keluarga. Jadi untuk keselamatan dan kesejahteraan rumahtangga dan masyarakat, asas binaannya ialah Islam. Wanita yang beriman dan beramal soleh patut menjadi pilihan jejaka yang ingin berumahtangga dan wanita juga disarankan untuk memilih jodoh yang beriman dan beramal soleh. Walaupun jodoh itu tertentu di 'azali' lagi, usahakan untuk mendapatkan kelayakan itu sebelum kahwin atau membentuknya selepas kahwin, adalah perlu dilakukan.

Pengorbanan isteri besar sekali, anak yang dikandung selama 9 bulan lebih atau kurang dibentuk , diadun dan membesar dengan darah dan perasaan isteri. Kesihatan isteri mempengaruhi jasad janin. Perasaan isteri juga mempengaruhi rohani janin. Isteri yang memahami hakikat kesempurnaan ciptaan Allah akan menggunakan kaedah Al quran untuk menyeimbangkan rohani dan jasmani janin. Menjaga makan minum , rehat yang secukupnya dan cenderung untuk memperbanyakkan amalan soleh seperti membaca quran dan bersedeqah.

Suami juga berperanan, bukan setakat mencari nafaqah yang baik lagi halal tetapi penjagaan emosi si isteri iaitu memberi kebahgiaan, keselesaan dan perhatian kepadanya.

Masyarakat melayu mungkin kurang perihatin tentang soal perasaan isteri. Mungkin kerana mereka kurang terdedah dengan ilmu psaikologi kerumahtanggaan . Berbanding dengan masyarakat Cina dan Eropah, kita lihat mereka memberi perhatian dan layanan istimewa kepada ibu ibu mengandung. Kerja kerja berat tidak terbeban ke atas isteri. Perasaan tidak gersang dari kasihsayang sisuami.

Bagaimanapun, suami yang terdidik, terpelajar dan terbentuk dari rumahtangga harmoni, masih ramai dikalangan masyarakat. Bukan semua, tetapi dari kelemahan inilah yang melahirkan generasi kurang berqualiti disudut aqal dan budi. Suami atau suami isteri yang melepaskan kewajiban mendidik anak kepada orang ketiga yang tidak berqualiti, umpamanya guru guru sekolah, orang gaji atau nenek nenek (tidak semua).

Apa yang kita harapkan, pembaikian masyarakat bermula dari pembentukan rumahtangga muslim. Lahirkan anak anak soleh dan solehah dari rumahtangga muslim. Lahirkan bakal isteri dan bakal suami dari rumahtangga muslim. Lahirkan guru guru dari rumahtangga muslim .Lahirkan ahli ahli masyarakat dari rumahtangga muslim. Pasti kita memperolehi kebahgiaan dunia dan akhirat.

Bagaimana cara menjadi muslim mukmin ?

Ada beberapa peringkat yang perlu dilaksanakan.

1.Hendaklah ia muslim terhadap tuhan yang menciptakannya.

Apa itu 'muslim' ? Apa itu 'mukmin' ? Tunduk, taat (patuh) kepada kehendak Allah taala dan percaya serta yaqin yang menjadikan , mengurus mentadbir alam dan segala isinya adalah Allah yang Maha Kaya lagi Maha Berkuasa.

Kita sebagai makhluk yang bertaraf hambaNya, hendaklah menurut segala perintah 'Tuan hamba' iaitu Allah.

Apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kita ?

Manusia diletakkan di muka bumi, diutuskan rasul dari kalangan mereka untuk menunjukajar sistem hidup yang terbaik dengan rujukan dari Allah iaitu kitab kitab . Bagi umat terakhir , satu panduan yang paling sempurna iaitu al quran.

Ibnu Mas'ud (r.a) meriwayatkan: Dia bertanya kepada Rasulullah s.a.w : Apakah amal yang paling baik ? Baginda menjawab , " Solat pada waktunya." Aku bertanya lagi "Apakah lagi ?" Baginda menjawab: "Berbuat baik kepada kedua orang tua." Aku bertanya lagi: "Apakah lagi?" Baginda menjawab: "Berjihad di jalan Allah."

Paling mudah untuk mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat . Menjaga solat iaitu hubungan akrab dengan Allah taala. Berbuat baik dengan ibubapa, akan menjadikan kita turun temurun senantiasa berbuat baik antara satu sama lain dan jalinan silaturrahim yang sangat indah. Serta jihad, iaitu menjaga agama Allah terus terpelihara dan diamalkan oleh manusia. Rasanya tidak ada yang akan berani bermaksiat dengan Allah taala.

2. Muslim terhadap ibubapa.

Firman Allah: "Jika salah seorang atau kedua duanya dalam lanjut usia di dalam pemeliharaanmu, sekali kali janganlah berkata "ah" kepadanya, dan ucapkanlan kata kata yang mulia dan rendahkan dirimu terhadap mereka dengan kasih sayang. dan ucapkanlah ,Wahai tuhan ku , kasihanilah mereka keduanya sebagaimana mereka mengasihaniku sewaktu kecil. "
(Al Isra :23 ,24 )

3. Muslim terhadap isteri.

Fiman Allah taala: "Dan diantara tanda tanda kekuasaanNya ialah diciptakan untukmu isteri isteri dari jenis kamu supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan antara kamu rasa kasih sayang."( Ar rum:21 )

Sabda Rasulullah s.a.w: "Berwasiatlah kamu dengan cara baik dengan wanita sebab mereka dijadikan dari tulang rusuk yang bengkok. Dan sesungguhnya bahagian yang paling bengkok itu ialah tulang rusuk yang paliang atas. Jika kamu meluruskan dengan cara keras dan paksa nescaya patahlah dia dan jika engkau biarkan nescaya ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kamu dengan baik kepada wanita." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

4. Muslim terhadap anak anak.

Firman Allah: "Wahai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu." (At Tahrim :6)

Sabda Rasulullah : "Suruhlah anak anakmu solat ketika berumur 7 tahun dan pukullah mereka ketika berumur 10 tahun jika mereka meninggalkan solat." (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud)

Sabda Rasulullah: " Barangsiapa yang mempunyai anak kecil hendaklah ia menjadi anak kecil terhadapnya." (Riwayat ibnu Assakir)

Sabda Rasulullah: "Semulia mulia dinar yang kamu belanjakan ialah dinar untuk belanja ahlinya, dinar untuk tunggangannya dan untuk sahabatnya pada jalan Allah." (Riwayat Muslim)

Secara keseluruhannya apabila kita dapat meletakkan diri sebagai muslim mukmin dan menjalankan amanah yang ada pada kita sebaik mungkin, kita akan merasai ni'mat yang tidak terhingga semasa hidup di dunia dan balasan terbaik di akhirat nanti.

wallahu 'alam.

Disebalik isra' mi'raj

...Sebuah perenungan yang mendalam dari dasar qolbu yang bercahaya...

cisaat | June 28, 2005

" Muhammad telah naik ke langit tertinggi lalu kembali lagi. Demi Allah aku bersumpah, bahwa kalau aku telah mencapai tempat itu, aku tidak akan kembali lagi."

Bila kita membaca sejarah Islam, setidaknya ada tiga peristiwa penting yang melatarbelakangi peristiwa Isra dan Mi'raj Nabi Saw..

Pertama, peristiwa boikot yang dilakukan orang kaum Quraisy kepada seluruh keluarga Bani Hasyim. Kaum Quraisy tahu bahwa sumber kekuatan Nabi Saw adalah keluarganya. Oleh karena itu untuk menghentikan dakwah Nabi Saw. sekaligus menyakitinya, mereka sepakat untuk tidak mengadakan perkawinan, transaksi jual beli dan berbicara dengan keluarga bani Hasyim. Mereka juga bersepakat untuk tidak menjenguk yang sakit dan mengantar yang meninggal dunia dari keluarga Bani Hasyim. Boikot ini berlangsung kurang lebih selama tiga tahun. Tentunya boikot selama itu telah mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan khususnya kepada Nabi Saw. dan umumnya kepada keluarga Bani Hasyim.

Kedua, peristiwa wafatnya paman beliau, Abu Thalib. Peristiwa ini menjadi sangat penting dalam perjalanan dakwah N! abi Saw. sebab Abu Thalib adalah salah satu paman beliau yang senantiasa mendukung dakwahnya dan melindungi dirinya dari kejahilan kaum Quraisy. Dukungan dan perlindungan Abu Thalib itu tergambar dari janjinya," Demi Allah mereka tidak akan bisa mengusikmu, kecuali kalau aku telah dikuburkan ke dalam tanah." Janji Abu Thalib ini benar. Ketika ia masih hidup tidak banyak orang yang berani mengusik Nabi Muhammad Saw, namun setelah ia wafat kaum Quraisy menjadi leluasa untuk menyakitinya sebagaimana digambarkan dalam awal tulisan ini.

Ketiga, peristiwa wafatnya istri beliau, Siti Khadijah r.a. Peristiwa ini terjadi tiga hari setelah pamannya wafat. Siti Khadijah bagi Nabi Saw. bukan hanya seorang istri yang paling dicintai dan mencintai, tapi juga sebagai sahabat yang senantiasa mendukung perjuangannya baik material maupun spiritual, yang senantiasa bersama baik dalam keadaan suka maupun duka. Oleh karena itu, wafatnya Siti Khadijah menjadi pukulan besar bagi perjuangan N! abi Saw..

Tiga peristiwa yang terjadi secara berurutan itu sangat berpengaruh pada perasaan Rasulullah Saw. ia sedikit sedih dan gundah gulana. Ia merasakan beban dakwah yang ditanggungnya semakin berat. Oleh karena itu para sejarawan menamai tahun ini dengan ámul hujn (tahun kesedihan).

Dalam kondisi seperti itulah kemudian Allah Swt. mengundang Nabi Saw. melalui peristiwa isra dan mi'raj. Isra' adalah peristiwa diperjalankannya Nabi Saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sedangkan mi'raj merupakan peristiwa dinaikannya Nabi Saw. dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha. Peristiwa Isra Miraj ini mengajarkan banyak hal kepada Nabi Saw. Dalam perjalanan isra' ia melihat negeri yang diberkahi Allah Swt. dikarenakan di dalamnya pernah diutus para Rasul. Sedangkan dalam perjalanan mi'raj ia melihat tanda-tanda kebesaran Allah Swt. "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari, dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya, ! supaya kami perlihatkan ayat-ayat Kami kepadanya. Sesungguhnya Ia Maha mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S Al Isra :1). "Sesungguhnya ia (Muhammad) melihat Jibril (dalam rupanya yang asli) di waktu yang lain. Yaitu di Sidratul Muntaha. Didekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." (Q.S An-Najm : 13-18).

Isra' dan mi'raj merupakan pengalaman keagamaan yang paling istimewa bagi Nabi Muhammad Saw.. Puncaknya terjadi di Sidratul Muntaha. Muhammad Asad menafsirkan Sidratul Muntaha dengan lote-tree farthest limit (pohon lotus yang batasnya paling jauh). Pohon Lotus dalam tradisi Mesir kuno merupakan simbol kebijaksanaan (wisdom) dan kebahagiaan. Dengan demikian secara simbolik Sidratul Muntaha dapat diartikan se! bagai puncak kebahagiaan dan kebijaksanaan.

Kebahagiaan yang dibarengi dengan kebijaksanaan inilah yang kemudian membedakan pengalaman keagamaan Muhammad Saw. sebagai nabi dan rasul dengan kaum sufi sebagai manusia biasa. Dengan bahasa yang sederhana tetapi penuh makna Abdul Quddus, seorang sufi Islam besar dari Ganggah, menyatakan,"Muhammad telah naik ke langit yang tinggi lalu kembali lagi. Demi Allah aku bersumpah, bahwa kalau aku telah mencapai tempat itu, aku tidak akan kembali lagi."

Ketika Nabi Saw. sampai di Sidratul Muntaha, Allah Swt memperlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya berupa bukti-bukti wujud, keesaan, dan kekuasaan-Nya. Disamping itu diperlihatkan juga surga, neraka, perihal langit, kursi dan 'arasy. Setelah melihat semua itu keyakinan Nabi Saw. terhadap keagungan Allah Swt dan kelemahan alam dihadapan keagungan-Nya semakin kuat. Pada gilirannya keyakinan seperti ini telah melahirkan kesadaran ruhani baru pada dirinya berupa kebijaks! anaan (wisdom), ketentraman dan kebahagiaan.

Pada saat itu Nabi Saw. sudah mampu membedakan posisi Tuhan dan alam (manusia). Tuhan adalah sumber kebahagiaan, sementara alam sumber kesusahan dan kesengsaraan. Oleh karena itu menggantungkan semua harapan dan keinginan kepada-Nya akan mendatangkan kebahagiaan yang hakiki. Sebaliknya menggangtungkan semua harapan dan keinginan kepada alam akan mendatangkan kesengsaraan.

Kebahagian bertemu dan berdialog dengan Dzat yang dicintai dan mencintainya di Sidratul Muntaha tidak menyebabkan Nabi Saw. lupa akan tugas pokonya menebarkan rahmat Allah Swt. melalui dakwahnya. Hal tersebut dikarenakan, kebahagiaannya tersebut telah dibarengi dengan kebijaksanaan sehingga ia mampu membedakan persoalan pokok dengan cabang, prinsip dengan taktik, esensi dengan aksidensi serta alat dengan tujuan. Nabi Saw. sangat sadar bahwa kebahagian yang diperolehnya dalam Isra' dan Mi'raj bukan esensi dan tujuan utama Allah Swt. tetapi itu semua han! ya alat untuk mempersiapkan kondisi jiwanya supaya bisa melaksanakan tugas yang lebih berat dari sebelum-sebelumnya. Oleh karena itu, ia meninggalkan kebahagiaan langit yang sedang dinikmatinya itu, kemudian turun ke bumi untuk berjibaku dengan realitas sosial yang penuh dengan tantangan dan penderitaan. Dengan demikian peristiwa isra' mi'raj Nabi Saw. tidak hanya memiliki makna individual tetapi juga memiliki makna sosial.

Disinilah letak perbedaan pengalaman keagamaan rasul dengan seorang sufi, terutama sufi falsafi. Pengalaman keagamaan rasul berdimensi individual dan sosial sedangkan pengalaman keagamaan sufi (mistik) lebih banyak berdimensi individual. Ketika seorang sufi mengalami fana, kondisi kejiwaannya hampir sama dengan kondisi kejiwaan Nabi Saw. ketika diisra' dan dimi'rajkan. Ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dirinya merasa menyatu dengan Allah Swt.. Ia hanyut dan mabuk dalam pelukan keindahan-Nya.

Pengalaman keagamaan seperti itu telah menyebab! kan seorang sufi lupa akan diri dan lingkungannya. Kesadarannya bahwa ia bagian dari alam menjadi hilang. Ia menjadi tidak peduli lagi terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Ia hanya asyik ma'syuk dengan perasaannya sendiri dan terus menyendiri dengan dzikir-dzikirnya. Akibatnya, walaupun ia berdzikir ribuan kali dan mendatangkan ketenangan jiwa, namun semua itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap perilaku sosialnya. Semakin lama ia berdzikir semakin dalam masuk pada kesadaran dunia mistik. Semakin masuk ke dalam kesadaran dunia mistik, semakin jauh dari realitas kehidupan. Penomena seperti ini dapat menjelaskan perilaku sebagian sufi yang senang mengasingkan diri dari dunia nyata.

Bagaimana dengan Kita ?
Ketika Muhammad Saw. mendapat tantangan berat dalam dakwahnya, ia diundang Allah Swt. melalui peristiwa Isra' dan Mi'raj. Melalui peristiwa ini Allah Swt. mengobati luka hatinya, menghilangkan kesedihannya dan menghibur duka laranya. Akibatnya jiwanya menjadi fresh (segar) dan bahagia kembali. Dalam kondisi jiwa seperti ini kemudian ia kembali ke bumi malanjutkan tugas dakwahnya yaitu menebarkan rahmat Allah Swt. di muka bumi ini. Disinilah, seperti disebutkan di atas, Isra' Mi'raj tidak hanya memiliki makna individual tetapi juga memiliki makna sosial.

Ada pertanyaan, bagaimana bila yang mendapatkan hambatan dakwah itu kita? Bagaimana bila yang mendapat kesusahan dan penderitaan itu kita? Apakah bagi kita masih ada peluang diisra'kan dan dimi'rajkan seperti nabi Muhammad Saw? Jawabannya, tentu tidak mungkin. Lantas apa yang mesti dilakukan bila semua itu terjadi pada kita?
Shalat! Inila! h jawaban yang diberikan oleh Nabi Saw.

Isra dan mi'raj adalah salah satu mu'jizat Nabi Muhammad Saw.. Artinya itu hanya diberikan kepadanya tidak mungkin diberikan kepada manusia biasa. Namun demikian, berdasarkan petunjuknya ada amalan bagi orang-orang yang beriman yang memiliki fungsi sama dengan Mi'raj yaitu ibadah shalat. "Shalat itu mi'rajnya orang yang beriman (ash-shalatu mi'rajul mu'minín)" sabdanya.

Shalat secara bahasa berarti do'a. Doa pada hakikatnya merupakan bentuk dialog antara manusia dengan Allah Swt.. Ketika seseorang shalat, hakekatnya ia sedang bertemu dan berdialog dengan Allah Swt.. Oleh karena itu secara hakiki fungsi shalat dan mi'raj sama yaitu bertemu dan berdialog dengan Allah Swt..

Shalat yang benar mesti menghasilkan buah yang sama dengan buah Isra' mi'raj yaitu kesadaran individual dan sosial.

Tujuan utama shalat menurut Al Quran adalah untuk berdzikir (mengingat) kepada Allah Swt (Q.S Thaha : 14). Dzikir atau shalat. bila ! dilakukan dengan khusyu' akan mendatangkan ketentraman jiwa dan kebahagiaan hidup (Q.S Ar-Ra'du :28; Al Mu'minun : 1-2). Namun demikian, keberhasilan shalat seseorang tidak hanya diukur dari ketenangan dan ketentraman jiwa saja, tetapi mesti dilihat pula pada atsar (bekas) perilaku sosialnya. Menurut Al Quran, shalat yang benar mesti dapat menumbuhkan berbagai macam kebajikan seperti tumbuhnya kesadaran berinfak dan berzakat, kemampuan menghidarkan diri dari perilaku yang sia-sia, kemampuan memelihara diri dari perbuatan zina dan kemampuan memelihara amanat baik dari Allah Swt. ataupun sesama manusia ( Al Mu'minun : 3-8).

Disamping itu, shalat yang benar mesti dapat mengobati sifat kikir dan keluh kesah serta mencegah perbuatan keji dan munkar (Q.S Al Ma'arij : 19-25 ; Al Ankabut: 45). Rasulallah Saw. menyatakan bahwa shalat yang tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar tidak akan menambah apa-apa bagi mushalli (orang yang shalat) kecuali hanya semakin menjauhkan diriny! a dari Allah Swt (H.R.Ahmad).

Shalat yang memiliki dimensi individual dan sosial adalah shalat yang dilakukan dengan khusyu' dan dáim (kontinu). Menurut Imam Al Ghazali, shalat khusyu' adalah shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Yaitu memahami apa yang diucapkan dalam shalat sehingga melahirkan perasaan ta'zhim (hormat), khauf (takut), harap (raja) dan haya (malu) terhadap Allah Swt.. Kesadaran ini disamping akan mendatangkan kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman jiwa, juga akan mampu memotivasi mushalli untuk merealisasikan seluruh janji yang diucapkannya di dalam shalat ke dalam kehidupan sehari-hari. Wallah a'lam bi ash-shawwab

Rehlah di Sekayu





Dilema Facebook

Sebuah karangan Ust Zaharudin Abdul Rahman.

PROMOSI MAKSIAT & BUKA AIB SENDIRI

Iman seseorang telah disepakati oleh para ulama boleh menaik dan menurun berdasarkan pelakuan di dalam kehidupan sehariannya. Jika dosa memenuhkan ruang kehidupannya dengan dosa, keimanan akan menurun, memberi kesan kepada seluruh amalan. Solat menjadi tidak khusyu’ dan berat, demikian amalan kebaikan dirasa membosankan dan teramat menjemukan. Perasaan kesal dan rasa bersalah atas pelakuan dosa pula akan semakin pudar, hasilnya, keimanan di dalam hati menjadi semakin malap tanpa sinar.

Dosa dan pahala boleh bercambah dengan mudah, tanpa kawalan dan kesedaran sebaiknya, catatan amalan seseorang mungkin mengejutkannya di hari pembalasan kelak, sama ada disebabkan dosa yang di luar jangkaan atau timbunan pahala yang tidak disangka. Jika ia pahala, Alhamdulillah, namun bagaimana jika dosa yang memenuhi buku catatan amalan?

Melalui artikel ini, sekadar ingin mengingatkan kita semua agar lebih peka terhadap salah satu punca percambahan dosa. Malah dosa yang kecil boleh berubah wajah kepada Kabair (dosa besar) akibatnya. Tujuan tulisan ini tidak lain agar kita semua dapat lebih berhati-hati terhadap dosa yang tidak disedari sedang dipromosi dan disebarkan.

Perlu kita semua fahami, manusia selain Rasulullah s.a.w tidak akan dapat lari dari dosa. Paling kurang dosa-dosa kecil. Sebagai contoh, dosa-dosa kecil amat mudah diperolehi apabila kita menonton televisyen sama ada melalui tontonan aurat lelaki wanita di dalam siri drama, filem iklan, hatta berita. Dosa kecil juga boleh berlaku apabila kerananya sekiranya seseorang itu melalaikan tanggungjawab agama yang lain dan pelbagai lagi kekurangan kerananya.

Telah dibincang panjang lebar oleh ulama Islam, TV dan filem adalah neutral, jika digunakan untuk tujuan kebaikan, maka pahala diperolehi, jika keburukan, dosa tentunya.

Sudah menjadi normal hari ini, hampir semua keluarga mempunyai TV walau setinggi manapun tahap keilmuan agamanya. Jika tiada TV, internet juga turut memasuki kebanyakan rumah umat Islam hari ini, segala jenis filem dapat ditontoni melaluinya.

Diketika saya bersetuju dan tertarik dengan seruan para ilmuan dan pendakwah agar kita memboikot Yahudi Zionis dengan memboikot segala jenis hiburan melalaikan di televisyen atau internet, kerana itu adalah antara agenda penting mereka dalam merosakkan umat Islam. Namun begitu, sebahagian pendakwah ini mungkin terlupa menyedarkan, bahawa filem-filem dan drama yang biasanya ‘box office’ karya Hollywood juga adalah karya hedonimse Barat dan Yahudi Zionis. Itu juga sepatutnya diboikot.

Namun, desakan nafsu dan Syaitan kerap mendorong sebahagian kita untuk terus melihat kisah-kisah paparan kreativiti karyawan Barat ini. Walau kita tahu ia bercampurbaur adegan dosa ( berpelukan, bercium dan sebagainya) dan pemaparan aurat tentulah amat pasti.

Benar, secara umumnya, ia mungkin masih dianggap dosa-dosa kecil. Dosa kecil disebut oleh Nabi s.a.w boleh terhapus dengan solat fardhu, solat Jumaat, zikir, istighfar dan pelbagai amalan lain. Namun demikian, dosa kecil seperti itu boleh berganda sehingga adakalanya amalan seseorang tidak lagi mampu memadamkan dosa keseluruhannya.

Ia adalah apabila tontonan kita itu dikongsikan kepada orang lain melalui pendedahan kita sendiri sama ada di ketika bercerita berkenaannya, mungkin dalam ulasan kita. Atau lebih teruk lagi dipamerkan di FACEBOOK sebagai filem (movies) yang diminati, drama TV disukai, buku didambai, muzik dikagumi dan sebagainya.

Bagi saya, tindakan mengisi ruang itu dengan sebarang filem yang majoritinya mendedahkan aurat dan bercampur baur pengajarannya adalah sama seperti mempromosikannya, memberikan iklan percuma kepadanya, memaklumkan keredhaan kita terhadapnya.

Mungkin terkecuali jika kita menyiarkan minat kita terhadap movie pengajaran seperti Kung Fu Panda, Toy Stories, Cars, Omar Mukhtar atau dokumentari dan keagamaan seperti National Geographic, Discovery Channel, Berita, Al-Kuliyyah, Tanyalah Ustaz, Halaqah, Akademi al-Quran dan sebagainya.

Memaparkan minat kita rancangan TV atau Movie yang jelas bercampur aduk dosa dalam majoriti adegannya seperti ‘Desparate Housewives’, ‘Friends’, ‘Pretty Women’, ‘Notting Hill’, ‘Kuch Kuch Hota Hai’, ‘HEROES’ dan jutaan lagi filem sepertinya.

Walaupun seseorang itu memang meminati dan menontonnya, namun sedarilah tontonan itu mengakibatkan banyak dosa-dosa kecil. Tontontan itu tanda akibat kelemahan diri kita sehingga terjebak dalam dosa sebegitu.

Memaklumkannya kepada orang lain akan minat kita terhadap filem itu adalah dosa gandaan yang lain. Ia adalah sebuah promosi iklan secara percuma. Malah mendedahkan sokongan kita terhadap movie dan drama bermaksiat. Bukan sekadar movies sahaja malah hal yang sama terpakai buat promosi buku, novel, muzik dan public figure atau artis (khususnya di facebook).

Saya bimbang, keghairahan berkongsi segala-galanya di dalam facebook, blog dan forum akan tanpa sedar mempergandakan dosa seseorang.

Kecuali jika diyakini dengan ilmu dan iman bahawa pengajaran BAIK dari filem yang ingin dikongsi tersebut atau ditanda sebagai ‘like’ itu MELEBIHI UNSUR DOSA DAN BURUK. Sebagaimana drama-drama bermesej islam, penuh pengajaran tetapi masih dilakonkan oleh pelakon mendedah aurat. Jika diyakini unsur positifnya melebihi dan negatif, tatkala itu mungkin wujudnya sedikit justifikasi untuk dipapar dan ditonjolkan dalam senarai drama diminati. Dengan niat agar orang lain turut mendapat pengajarannya.

Selain berkongsi minat terhadap hal yang disebut di atas, ada juga yang mendedahkan dosanya melalui gambar. Gambar seperti :

* ketika sedang minum arak.
* hadiri parti
* penuh maksiat.
* hadiri majlis dosa.
* sedang berpelukan lelaki wanita.
* atau bersentuhan wanita dan lelaki yang bukan mahram (walaupun bagi seorang doktor kerana keperluan, tetapi gambar sedemikian PATUT disembunyikan).
* dan sebagainya.

Sekiranya semua yang disebut tadi dikongsi di facebook dan blog, kita bimbang individu terbabit tergolong di dalam kategori penyebar dosa dan pembuka aib diri sendiri.

Justeru itu, jadikanlah dosa peribadi disebabkan menonton filem bercampur maksiat, atau menyukai musik hedonisme, atau melakukan maksiat secara fizikal kerana zina, curi, tidak solat dan sebagainya, sama ada kecil atau besar yang dilakukan di rumah, tersembunyi adalah antara individu terbabit dengan Allah SWT. Tujuannya agar seseorang itu beroleh rahmat Allah dan diberi hidayah untuk bertaubat sebelum maut menjelma.

Mungkin disebabkan pendedahannya, apabila ia ingin atau telah bertaubat, sukar untuknya untuk memaklumkan kepada semua yang pernah mendengar atau mengetahui pendedahannya agar bertaubat sama, malah taubatnya juga mungkin diragui orang lain atau paling kurang, membawa masalah dalam hati seperti boleh menumbulkan riya’.

Justeru jalan terbaik atas apa jua bentuk dosa yang telah atau pernah dilakukan adalah SENYAP DAN SEMBUNYIKAN. Ia bukan hipokrit, tetapi ia dituntut oleh Allah dan RasulNya dan usahakan bertaubat. Hiprokrit adalah bagi mereka yang berpura-pura baik, tetapi dalam hal ini, si pelaku dosa hanyalah menyembunyikan dosanya. Tidak timbul persoalan dia cuba mengabui mata orang ramai dan berpura-pura baik.

KESIMPULAN

Segeralah memadam paparan minat dan keterlibatan terhadap apa jua aktiviti, tayangan, muzik, bacaan selain untuk Allah, Rasul dan apa yang mendekatkan diri kepada keredhaan Allah. Walau sebanyak, sedalam manapun minat, sejauh manapun keterlibatan, sembunyikan ia, bukan bertujuan untuk menipu manusia lain, tetapi agar dia tidak tergolong dalam kalangan berbangga dengan dosanya, mempromosi, membuka aib sendiri dan mengiklan kejahatan kepada orang lain.

Semaklah Facebook anda, blog, website, forum dan sembangan harian agar tidak tersalah dan mempergandakan dosa.

Credit to : Feryco

Pendekatan Dakwah

Posted on Tuesday, June 22 @ 16:00:00 PDT


Tazkirah Oleh: wayarMAHAL

"konsert lifeline di malaysia"Secara solid mengakui keadaan masyarakat di Malaysia khususnya seluruh dunia amnya didapati keruntuhan akhlak dan moral yang kian meningkat bak cendawan tumbuh selepas hujan amatlah begitu membimbangkan.Ini disebabkan pelbagai hidangan gejala salah laku ini dimanipulasikan oleh golongan para remaja.

Amat sedih dan dukacita diantara mereka dari golongan cerdik pandai ,mempunyai peribadi serta latar belakang yang berpendidikan dan amat lagi menduka citakan apabila golongan yang terjebak ke kancah keruntuhan akhlak ini dari golongan remaja yang mempunyai pendidikan agama,tahu halal haram.Nauzubillah....

Pendekatan dai'e terhadap mad'u
Setiap dai'e ada kelebihannya tersendiri dan juga memiliki uslub serta module-module yang pelbagai dalam skop bagaimana hendak menarik mad'u ,baik dari segi olahan penyampaian atau tindak tanduk dai'e itu sendiri secara tidak formal.Perlu dilihat dari kondusi yang sesuai.Adakalanya mad'u mudah masuk melalui olahan lisan yang berhemah dan adakalanya juga melalui penampilan dan personaliti dai'e itu sendiri,dengan secara tidak lansung dapat menarik mad'u.

Bila kita lihat dan muhasabah diri kita,adakah kita tergolong diantara suka dan sentiasa dalam halaqah golongan yang faham tapi tidak pernah mengambil cakna serta ihtimam pada golongan yang kurang faham ini terus terleka dibuai keduniaan didepan mata kita.Selaku para dai'e,perlu ada pembawakan kreatif dan bijak menarik golongan yang kurang faham tentang Islam.Ada diantaraya mereka di label sebagai golongan Islam surface sahaja.Maka rentetan daripada permasalahan tersebut,kita harus mengenali mad'u supaya ianya boleh menjadi salah satu elemen permudahcara untuk melaksanakan kerja-kerja dakwah.Begitu juga bagaimana cara untuk hendak menyesuaikan diri dengan mad'u.Rasulullah s.a.w juga berdakwah secara berhikmah dan bijaksana.Dan juga seperti kisah yang dilalui oleh cucu Baginda s.a.w ,yang mana ketika itu beliau melihat seorang lelaki sedang mengambil wuduk secara ala kadar seperti acuh tak acuh sahaja.Lalu beliau mendekati lelaki itu dan berkata padanya.'' pakcik boleh lihat saya berwuduk tak?kalau salah ,tolong tegur ya'' (ni ayat admin supaya jelas untuk di sampaikan pada duuful kiram).

Kadang-kadang berlaku kejadian yang menyebabkan mad'u lari dari dai'e nya,mungkin ia lari secara fizikal dengan tidak lansung menghadiri sebarang pengajian atau program-program dakwah yang dianjurkan dan mungkin juga tiada lagi rasa cinta dan sayangkan pada dai'e tersebut.
Sabda Rasulullah s.a.w''Bertakwalah kepada Allah dimana jua kamu berada dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik .Ikutilah kejahatan dengan kebaikan agar kebaikan dapat menghapuskan kejahatan-Riwayat Ahmad-


Dalam Kitab Dakwah Fardiah karangan Mustapha Masyhur menagatakan ada 7 marhalah cara mendekati mad'unya .

Secara ringkas yang dapat di adaptasi dalam entri ini ialah...

Marhalah pertama:
Marhalah pertama ialah mewujudkan hubungan dan perkenalan dengan mad’u (taaruf). Di marhalah ini, anda hendaklah benar-benar merasakan kepada dirinya bahawa anda mengambil berat tentang dirinya dan bertanya khabar apabila dia tidak ada dan lain-lain. Ketika itu anda tidak membincangkan apa-apa tajuk mengenai dakwah sehingga hatinya benar- benar terbuka dan bersedia untuk memahami apa yang anda perkatakan mengenai dakwah dan mengambil pengajaran daripadanya.


Marhalah kedua:
Marhalah kedua ialah marhalah membangunkan iman yang lesu di jiwa mad’u. Di peringkat ini perbincangan mengenai persoalan keimanan tidak perlu dilakukan secara langsung. Adalah lebih baik jika perbincangn mengenainya mengambil pendekatan secara tidak langsung seolah-olah tanpa disengajakan, dengan cara mengambil kesempatan daripada melihat burung, tumbuhan, serangga atau mana-mana makhluk Allah. Di kesempatan tersebut, perbincangan mengenai kekuasaan kekuasaan Allah, kehalusan dan keagungan ciptaan-Nya dilakukan. Sebagai contohnya, dijelaskan kepada mad’u bagaimana tumbuhan tersebut tumbuh daripada tanah dan air yang sama. Ia melahirkan bahagian-bahagian yang berlainan seperti dahan, daun, bunga, buah, warna, bau dan rasa sedangkan ia disiram dengan air yang sama dan ditanam di tanah yang sama.


Marhalah ketiga:
Di waktu itu, bermulalah marhalah ketiga di dalam dakwah. Di marhalah ini kita membantunya memperbaiki dirinya dengan cara mengajarnya perkara-perkara ketaatan kepada Allah dan ibadat-ibadat fardhu, membiasakan dirinya melakukannya secara berdisplin, menjauhi
maksiat dan berakhlak dengan akhlak Islam

Marhalah keempat:
Marhalah keempat ialah menjelaskan pengertian ibadah yang syumul tanpa membataskannya kepada solat, puasa, zakat dan haji sahaja. Tetapi ia merangkumi seluruh aspek kehidupan seperti makan, minum, pakaian, ilmu, amal, perkahwinan, riadhah, memelihara anak-anak dan lain-lain. Itu semua adalah ibadah kepada Allah s.w.t apabila mencukupi dua syarat: Niat kerana Allah s.w.t dan cara melaksanakannya sesuai dengan syariat Islam.

Marhalah kelima:
Di marhalah ini, kita menjelaskan kepada mad'u bahawa agama kita (Islam) tidak berpada dengan kita menjadi muslim pada diri sendiri sahaja, dengan hanya melaksanakan ibadat-ibadat tertentu, berakhlak dengan akhlak yang baik dan tidak menyakiti orang lain, tidak lebih daripada itu.
Malah Islam adalah agama bermasyarakat. Islam adalah sistem hidup, pemerintahan, perundangan, daulah, jihad dan ummah. Inilah fahaman yang betul terhadap Islam.


Marhalah keenam:
Di ketika itu, datanglah marhalah keenam iaitu mejelaskan kepada mad'u bahawa kewajipan ini tidak mungkin dapat disempurnakan secara bersendirian (fardi), setiap muslim tidak mampu menegakkan Daulah Islamiah dan mengembalikan khalifah Islamiah secara bersendirian. Malah usaha tersebut mesti dilakukan melalui Jemaah (organisasi), Jemaah yang akan menyatukan usaha-usaha fardi demi melaksanakan tanggungjawab yang besar ini


Marhalah ke tujuh:
Selepas itu, datanglah marhalah ketujuh iaitu menjawab soalan yang bermain di minda mad'u, Jemaah manakah yang patut dianggotai? Marhalah ini adalah penting tetapi sensitif. Ia memerlukan hikmah dan kebijaksanaan, penerangan yang jitu dan memuaskan. Ini kerana, di medan terdapat pelbagai jemaah yang bergerak dan semuanya mengajak para pemuda menganggotainya. Semuanya membawa bendera Islam, mempunyai lambang-lambang dan cara-cara tersendiri untuk menarik para pemuda. Perkara yang mesti difahami oleh setiap pemuda muslim ialah
persoalan amal Islami adalah persoalan asasi dan penentu masa depan.

Secara kesimpulan yang dapat diambil ialah:
Mendekati secara peribadi, Membentuk ia dari pendekatan hati ke hati, perbincangan berperingkat yang sangat teliti dari minat-minat mereka, kemudian memecahkan tabir hati untuk melihat ciptaan-ciptaan ilahi, akidah, ibadah, akhlak dan seterusnya.
Pendekatan sekian rupa ini agak lambat tapi perlu kita tahu bahawa penghasilannya adalah suatu kepastian.Ianya merupakan tulang belakang kepada dakwah kita,sungguh indah pendekatan tersebut dengan aturan yang lengkap tanpa ditinggalkan walau sekecil zarah .

Kalau kita memikirkan hal dakwah,maka dunia akan luas buat kita dan kita tidak akan terasa sempit.Bukan hidup didunia ini jika tiada masalah hatta Rasulullah s.a.w yang dijanjikan syurga juga mempunyai masalah.Dan disini saya tekankan lagi bahawa uslub dan cara penyampaian dai'e terhadap mad'u itu penting.Dan saya juga yakin bahawa selaku para dai'e bukanlah mudah dalam mengendalikan kerja-kerja dakwah.Tetapi ketahuilah mencegah kemungkaran itu dan mengajak kepada kebaikan adalah merupakan salah satu cabang jihad fi sabilillah.
Jadi , apa yang ditunggu lagi wahai para dai'e sekalian.Aslih nafsak wad'u ghoirak(baikilah dirimu ,serulah selainmu).Islam datang berdagang,perginya juga berdagang.Kalau kita tidak mulakan,maka siapa lagi kita harapkan???Moga kita istiqomah dalam pentarbiahan diri dan mentarbiah yang lain sepertimana dalil yang menyebut tentang istiqomah , Allah swt berfirman yang bermaksud :''Maka tatkala kamu pada yang benar'' [[ surah Hud:112]]

Wallahualam...